Jumat, 25 Juli 2014

Menanam Melon dengan Media Polibag

Melon (Cucumic melo L) merupakan tanaman buah semusim yang termasuk dalam family Cucurbiataceae. Buah melon memiliki nilai komersil yang tinggi di Indonesia dengan kisaran pasar yang luas dan beragam, mulaitahapan melon dalam pot dari pasar tradisional hingga pasar modern, restoran dan hotel. Dengan rasa yang manis dan segar melon dapat dikonsumsi  secara langsung ataupun diolah menjadi minuman dan makanan lain. Melon dapat diusahakan di tempat pekarangan yang sempit dan lantai semen dengan menggunakan polibag atau pot.
Keuntungan menanam buah dalam pot adalah :
a. Dapat menjadi penghias taman atau ruangan
b. Mudah dipindahkan kemana saja
c. Mudah pemeliharaannya
d. Pemberian pupuk dan air lebih efisien
e. Pengendalian hama dan penyakit tanaman lebih mudah
f. Panen buah lebih mudah dan buah lebih segar
Syarat Tumbuh
Tanaman melon dapat tumbuh optimum pada ketinggian 250 – 800 meter di atas permukaan laut, curah hujan  antara 1.500 – 2.500 mm.tahun, dan kelembaban udara antar 50 – 70 %. Jenis tanah yang cocok adalah tanah andosol (liat berpasir) dengan kandungan bahan organic yang tinggi.
Teknologi Budidaya  Melon Dalam Pot
Teknologi budidaya melon dalam pot pada dasarnya hampir sama dengan budidaya di lapangan yaitu
1. Persiapan Bibit
Media bibit terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 dan  dimasukan dalam potray atau polibag kecil.  Benih direndam dalam air yang diberi fungisida selama 12 jam, kemudian ditiriskan dalam  koran dan di simpan dalam tempat yang gelap.setelah benih berkecambah dipindahkan dalam media semai yang telah disiapkan dengan cara benih yang runcing menghadap ke bawah.
2. Persiapan media Tanam
Media Tanam terdiri dari campuran tanah, pupuk kandang, sekam dengan perbandingan 1:2:3, masukan dalam pot dan tambahkan Furadan 5 gram, NPK 20 gram, humic acid 1 liter, aduk merata.
3. Penanaman
Bibit ditanam pada umur 12 14 hari, atau berdau 4 . media disiram terlebih dahulu sebelum penanaman. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari untuk mengurangi kematian dan lakukan penyiraman.
4. Pemasangan ajir
Ajir atau lanjaran dipasang dengan cara menancapkan di dalam media atau pot yang terbuat dari bambu dengan panjang 1,5 – 2 m.
5. Pemangkasan dan pemilihan buah
Pemangkasan cabang dilakukan untuk memilih bakal buah yang akan dibesarkan. Calon buah dapat dipilih pada cabang 7-12 dan dipilih satu yang untuk dibesarkan, sedangkan cabang yang lain dlakukan pemangkasan.
6. Pemupukan
Pemupukan susulan menggunakan NPK 16:16:16 dan KNO3 dengan cara ditaburkan di sekeliling tanaman atau di campur dengan air dan dikocorkan.
No
Jenis Pupuk
Jadual
Dosis
I
NPK 16:16:16
14 HST
10 g/pot
II
NPK 16:16:16
24 HST
10 g/pot
III
NPK 16:16:16
34 HST
10 g/pot
IV
NPK 16:16:16
44 HST
10 g/pot
V
KNO3
54 HST
1 g/l, 1 l/pot
HST: Hari Setelah Tanam
6. Pengendalian Hama Dan Penyakit
Pengendalian hama menggunakan insektisisda dan penyakit menggunakan fungisisda sistemik dan kontak yang diberikan secara berselang-seling. Pengaplikasikannya ditambahkan perekat sebagai daya rekat ke daun jika pada waktu musim hujan.
7. Pemanenan
Buah siap dipanen dengan tanda-tanda terjadi retakan diujung tangkai atau telah berwarna kuning dan beraroma harum.

Sumber :
http://babel.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=206:petunjuk-praktis-budidaya-melon-dalam-pot&catid=15:info-teknologi

Rabu, 23 Juli 2014

Tanaman Hidroponik

TANAMAN HIDROPONIK
Hidroponik (latin; hydro = air; ponos = kerja) adalah suatu metode bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, melainkan dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.
Tanaman hidroponik bisa dilakukan secara kecil-kecilan di rumah sebagai suatu hobi ataupun secara besar-besaran dengan tujuan komersial.
Beberapa kelebihan tanaman dengan sistim hidroponik ini antara lain:
- Ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama yang dapat merusak tanah, menggunakan air hanya 1/20 dari tanaman biasa, dan mengurangi CO2 karena tidak perlu menggunakan kendaraan atau mesin.
- Tanaman ini tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah dan juga tidak membutuhkan tempat yang luas.
- Bisa memeriksa akar tanaman secara periodik untuk memastikan pertumbuhannya
- Pemakaian air lebih efisien karena penyiraman air tidak perlu dilakukan setiap hari sebab media larutan mineral yang dipergunakan selalu tertampung di dalam wadah yang dipakai
- Hasil tanaman bisa dimakan secara keseluruhan termasuk akar karena terbebas dari kotoran dan hama
- Lebih hemat karena tidak perlu menyiramkan air setiap hari, tidak membutuhkan lahan yang banyak, media tanaman bisa dibuat secara bertingkat
- Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga
- Bisa menghemat pemakaian pupuk tanaman
- Tidak perlu banyak tenaga kerja
- Lingkungan kerja lebih bersih
- Tidak ada masalah hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri, kulat dan cacing nematod yang banyak terdapat dalam tanah
- Dapat tanam di mana saja bahkan di garasi dan tanah yang berbatu
- Dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim
Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti bak choy, brokoli, sawi, kailan, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll. Tanaman demikian sering menjadi pilihan utama kaum vegan/vegetarian yang sangat memperhatikan proses suatu tanaman apakah terdapat pembunuhan makhluk hidup, tercampur unsur kimiawi, konservasi lingkungan dan usaha penghijauan.
Teknik Hidroponik
Terdapat dua teknik utama dalam cara bercocok tanam hidroponik. Yang pertama menggunakan larutan dan satunya menggunakan media. Metode yang menggunakan larutan tidak membutuhkan media keras untuk pertumbuhan akar, hanya cukup dengan larutan mineral bernutrisi. Contoh cara dalam teknik larutan yang umum dipakai adalah teknik larutan statis dan teknik larutan alir. Sedangkan untuk teknik media adalah tergantung dari jenis media yang dipergunakan, bisa berupa sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lain sebagai pengganti media tanah.
Terlepas dari teknik yang diterapkan, kebanyakan tempat talangan hidroponik terbuat dari plastik, tapi bahan lain juga bisa dipakai termasuk bak beton, kaca, baja, kayu dan bahan solid lainnya. Tempat penampungan harus dijauhkan dari cahaya guna mencegah pertumbuhan lumur di dalam air bernutrisi yang telah diisi.
Berikut uraian beberapa teknik hidroponik yang sering dipakai.
Teknik Larutan Statis
Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam teknik ini, tanaman disemai pada media tertentu bisa berupa ember plastik, baskom, bak semen, atau tangki. Larutan biasanya dialirkan secara pelan-pelan atau tidak perlu dialirkan. Jika tidak dialirkan, maka ketinggian larutan dijaga serendah mungkin sehingga akar tanaman berada di atas larutan, dan dengan demikian tanaman akan cukup memperoleh oksigen. Terdapat lubang untuk setiap tanaman. Tempat bak bisa disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Bak yang tembus pandang bisa ditutup dengan aluminium foil, kertas pembungkus makanan, plastik hitam atau bahan lainnya untuk menghindari cahaya sehingga dapat menghindari tumbuhnya lumur di dalam bak. Untuk menghasilkan gelembung oksigen dalam larutan, bisa menggunakan pompa akuarium. Larutan bisa diganti secara teratur, misalnya setiap minggu, atau apabila larutan turun di bawah ketinggian tertentu bisa diisi kembali dengan air atau larutan bernurtrisi yang baru.
Teknik Larutan Alir
Ini adalah suatu cara bertanam hidroponik yang dilakukan dengan mengalirkan terus menerus larutan nutrisi dari tangki besar melewati akar tanaman. Teknik ini lebih mudah untuk pengaturan karena suhu dan larutan bernutrisi dapat diatur dari tangki besar yang bisa dipakai untuk ribuan tanaman. Salah satu teknik yang banyak dipakai dalam cara Teknik Larutan Alir ini adalah teknik lapisan nutrisi (nutrient film technique) atau dikenal sebagai NFT, teknik ini menggunakan parit buatan yang terbuat dari lempengan logam tipis anti karat, dan tanaman disemai di parit tersebut. Di sekitar saluran parit tersebut dialirkan air mineral bernutrisi sehingga sekitar tanaman akan terbentuk lapisan tipis yang dipakai sebagai makanan tanaman. Parit dibuat dengan aliran air yang sangat tipis lapisannya sehingga cukup melewati akar dan menimbulkan lapisan nutrisi disekitar akar dan terdapat oksigen yang cukup untuk tanaman.
Teknik Agregat Media
Teknik ini menggunakan media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam, batu bata, dan media lainnya yang disetrilkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan untuk mencegah adanya bakteri di media. Pemberian nutrisi dilakukan dengan teknik mengairi media tersebut dengan pipa dari air larutan bernutrisi yang ditampung dalam tangki atau tong besar.

Beberapa Faktor Penting yang Harus Diperhatikan
- Larutan Nutrisi, harus memperhatikan jumlah dan unsur pH yang sesuai. Unsur pH berkisar 5,5 hingga 7,5. Larutan nutrisi ini mengandung konsentrasi N, P, K, Ca, Mg, S, dalam jumlah yang besar, sedangkan unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl dalam jumlah yang kecil. Larutan hara dibuat dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pilihan biasanya atas harga dan kelarutan garam pupuk tersebut.
- Media Tanam, antara lain terdiri dari batu bata, pasir, kerikil, arang sekam, spons, batu apung, dll.
- Air, harus diperhatikan kualitas air yang dipergunakan, tingkat salinitas tidak melebihi 2500 ppm dan nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm. Air tidak boleh mengandung terlalu banyak unsur logal berat.
- Oksigen, memegang peranan penting dalam hidroponik. Kekurangan oksigen akan menyebabkan dinding sel sulit untuk ditembus, sehingga tanaman akan kekurangan air. Dengan demikian tanaman akan cepat layu karena larutan tidak mengandung oksigen. Pemberian oksigen ke dalam larutan dapat melalui gelembung udara seperti pompa air gelembung yang dipakai akuarium, penggantian larutan nutrisi secara rutin, membersihkan atau mencabut akar tanaman yang terlalu panjang, dan memberikan lubang ventilasi pada tempat penanaman.
Prospek Usaha Tanaman Hidroponik
Berbicara tentang usaha dalam bidang hidroponik tidak terlepas dari jasa Bp. Bob Sadino yang dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan sistim bercocok tanam sayur hidroponik di Indonesia. Sayuran hidroponik mulai diperkenalkan oleh Bob Sadino di supermarket KemChick pada sekitar tahun 90-an. Sekarang, sayur hydroponik dapat dibeli di beberapa supermarket terkenal. Harga sayur hidroponik dipasang dengan 4 hingga 5 kali lebih mahal daripada harga sayur biasa di pasar tradisional. Namun, karena sayuran hidroponik terbebas dari pemakaian pestisida, proses tanam hingga panen yang berhigenitas tinggi, lebih segar, dan packaging yang lebih baik, sehingga sayuran hidroponik yang dijual di beberapa supermarket selalu cepat terjual habis.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan gerakan vegan/vegetarian dalam mengatasi permasalahan pemanasan global, tentunya permintaan sayuran dan buah-buahan yang berasal dari proses yang ramah lingkungan akan menjadi permintaan utama dalam daftar konsumsi mereka.
Karena terbatasnya persediaan, dan makin tingginya permintaan sayuran jenis hidroponik ini sehingga peluang bisnis yang ramah lingkungan ini cukup baik untuk digeluti oleh para pengusaha dalam skala yang besar, termasuk peluang ekspor ke pasar negara tetangga yang permintaannya sangat tinggi, seperti Singapura dan Malaysia.
Dari beberapa referensi yang diperoleh, biaya investasi untuk penanaman hidroponik secara komersial dengan skala kecil untuk luas tanah sekitar 100 m2 sekitar Rp 150 juta untuk pembuatan bak tanaman, bak penampung air, pipa saluran air, media , cairan larutan, dan bibit tanaman. Pengembalian investasinya sekitar Rp 500 juta hingga Rp 750 juta per tahun. Suatu peluang usaha yang pantas untuk digeluti !

Sumber :

http://sumansutra.wordpress.com/tanaman-hidroponik/

Senin, 21 Juli 2014

Menanam Bawang Merah

Permintaan bawang merah terus mengalami peningkatan yang ironisnya tidak diikuti dengan ketersediaan pasokan yang memadai. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi ini, seperti sentra produksi bawang merah mengalami gagal panen dikarenakan serangan hama dan penyakit yang endemic, faktor iklim yang kurang mendukung dan sebagainya. Kelangkaan bawang merah di pasaran pun akan mengakibatkan lonjakan harga yang jauh dari jangkauan masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya terobosan baru dalam pengembangan bawang merah untuk mengatasi kelangkaan ketersediaan bawang merah serta adanya fluktuasi harga di pasaran. Dengan mengintensifikasi lahan sempit di pekarangan rumah untuk berbudidaya bawang merah, diharapkan mampu menyediakan kebutuhan bawang merah skala rumah tangga. Berikut cara budidaya bawang merah menggunakan polibag :
1. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan antara lain : campuran tanah, arang sekam, pupuk kandang/ kompos dengan perbandingan 1:1:1. Sedangkan pupuk SP-36 yang dibutuhkan sebanyak 3gr/polybag ditambah dengan furadan (satu sendok kecil). Semua bahan tersebut dicampur dan disiram dengan air lalu dibiarkan selama 1-2 hari. Polybag yang digunakan berukuran 30 cm x 40 cm.
2. Penanaman dan Pemupukan
Bibit bawang merah ditanam di polybag sebanyak 3 umbi per polibag dan diatur jaraknya sekitar 15 cm antar umbi. Umbi ditanam ke dalam media tanam sampai sebatas leher umbi. Pupuk susulan berupa pupuk NPK (16-16-16) sebanyak 1 gr/polybag diberikan setiap minggu sampai umur 6 minggu dengan cara dicor atau disiramkan di sekitar tanaman atau diberikan 2 kali pada umur 15 hts dan 30 hts (hari setelah tanam) dengan cara dibenamkan ke dalam tanah. Letakkan polybag di tempat yang terkena sinar matahari.
3. Pemeliharaan
Penyiraman pada musim kemarau dilakukan satu atau dua kali sehari pada pagi dan/atau sore tergantung keadaan di lapang. Tanaman bawang merah tidak tahan kekeringan namun juga tidak tahan terhadap genangan air. Apabila umbi sudah terlihat (sekitar umur 2 bulan) jangan terlalu banyak disiram agar umbi cepat tua/berisi. Pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida nabati.
4. Pemanenan
Ciri-ciri tanaman bawang yang siap dipanen andalah 80 persen daun rebah menguning dan leher batang kosong/gembos, umbi tersembul di permukaan tanah dan berwarna merah. Bawang merah dapat dipanen setelah umur tiga bulan (untuk konsumsi) dan untuk menjadi benih dapat dipanen setelah 100 hari. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada keadaan tanah kering dan cuaca cerah untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi pada saat penyimpanan. Bawang merah yang telah dipanen diikat pada batangnya dan dijemur sampai cukup kering di bawah sinar matahari.
Dengan mengoptimalkan pekarangan rumah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bawang merah yang ada di pasaran. Selain itu, meningkatkan nilai estetika rumah, pekarangan dan lingkungan sekitar akan semakin hijau, sehat dan indah. Selanjutnya, akan diulas mengenai cara membuat pestisida nabati untuk menanggulangi hama dan penyakit pada tanaman bawang merah.
 
 
Sumber :
 
http://jakarta.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=357:mudahnya-menanam-bawang-merah-dalam-polybag-pot&catid=4:info-aktual

Minggu, 20 Juli 2014

Membuat Pupuk Organik Padat

Bagaimana cara membuat pupuk organik padat? Pupuk organik padat adalah pupuk organik yang secara fisik berbentuk padat. Untuk mendukung konsep pertanian organik, maka dibutuhkan salah satu komponen pendukung agar kegiatan budidaya secara organik dapat berlangsung dengan baik. Salah satu komponen pendukung tersebut adalah pupuk organik padat. Organik padat memiliki peran yang sangat bersar dalam mengembalikan kesuburan tanah, terutama berkaitan dengan sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, dan sifat biologi tanah.

Aplikasi organik padat akan memberikan tambahan unsur-unsur kimia dalam tanah baik makro maupun mikro, yang sangat dibutuhkan tanaman. Selain itu, daya serap tanaman terhadap unsur hara juga meningkat, karena pupuk organik mampu menjaga kelembaban tanah, sehingga pelarutan unsur hara dapat berjalan dengan baik. Pertumbuhan akar juga menjadi sempurna. Pemberian pupuk organik akan meningkatkan kegemburan tanah, sehingga perakaran tanaman akan mudah menembus struktur tanah yang remah. Dari segi keragaman biologi, pupuk padat juga mampu menyediakan material organik yang sangat dibutuhkan sebagai sumber energi bagi aktivitas mikroorganisme tanah. Di bawah ini akan kami uraikan secara singkat mengenai cara membuatnya, sehingga petani dapat menerapkan konsep pertanian organik dengan baik.

Bahan Yang Diperlukan

Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan pupuk organik padat adalah bahan-bahan organik baik dari kotoran hewan maupun sisa-sisa tanaman yang tidak terpakai. Beberapa bahan utama yang dibutuhkan adalah kotoran ternak atau kotoran unggas, jerami padi, sekam atau merang, dan dedak. Sekam padi sebaiknya dibuat arang sekam terlebih dahulu agar kualitas pupuk organik yang dihasilkan cukup bagus. Bahan tambahan atau pendukung yang diperlukan adalah bahan organik yang mengandung unsur NPK tinggi, misalnya daun bambu jika mudah didapat sebagai pendambah unsur phosphor (P), batang atau pelepah pisang sebagai penambah unsur kalium (K), daun pegagan sebagai penambah unsur nitrogen (N), tanaman kacang-kacangan sebagai penambah unsur nitrogen (N), azolla atau paku air sebagai penambah unsur NPK, blotong sebagai penambah unsur phosphor (P), daun gamal sebagai penamah unsur nitrogen (N) dan kalium (K), daun lamtoro sebagai penambah unsur nitrogen (N) dan kalium (K), dan bahan organik lain, misalnya sisa-sisa rumah tangga.

Bahan-bahan lain untuk mempercepat proses pengomposan adalah mikroba dekomposer yang banyak tersedia di pasaran, misalnya dengan merk dagang EM4 atau harmoni BS. Sebagai penambah energi mikroba tersebut sediakan molase atau tetes tebu atau bisa juga menggunakan gula pasir.

Komposisi bahan

Komposisi bahan-bahan organik adalah kotoran ternak atau unggas sebanyak 40%, jerami padi 30%, bahan organik lain 10%, sekam bakar 10%, dedak 10%. Untuk membuat 1 ton pupuk organik padat, maka dibutuhkan campuran berupa kotoran ternak atau unggas 400 kg, jerami padi 300 kg, bahan organik lain 100 kg, sekam bakar 100 kg, dedak 100 kg. Sehingga jumlah keseluruhan bahan 1.000 kg. Untuk membuat pupuk dengan campuran bahan sebanyak 1 ton, maka dibutuhkan mikroba atau bakteri dekomposer sekitar 1 liter dan tetes tebu atau molase 1 liter. Jika molase susah didapat, bisa digantikan menggunakan gula pasir sebesar 250 g. Kemudian tambahkan air 50-100 liter agar tercapai kadar air 30-40%.

Cara Membuat Pupuk Organik

Potong semua bahan yang berkuran besar dengan ukuran potongan kurang lebih 15 cm. Jika memiliki mesin pemotong, akan mempercepat pekerjaan. Campur semua bahan hingga merata. Campurkan mikroba dekomposer dengan molase atau gula pasir, kemudian larutkan dalam 50-100 liter air. Siramkan larutan mikroba tersebut pada campuran bahan yang sudah disiapkan hingga merata. Kemudian bahan organik yang sudah disiapkan digelar diatas lantai ubin atau tanah kering yang beratap. Tinggi gundukan bahan organik sebaiknya tidak lebih dari 35 cm, kemudian gundukan ditutup menggunakan karung goni atau terpal. Pertahankan suhu selama proses fermentasi stabil pada angka 50°C. Pengecekan suhu dilakukan setiap hari. Jika terlalu tinggi, bukalah karung goni tersebut kemudian gundukan diaduk. Jika suhu terlalu tinggi, maka proses pengomposan tidak akan berhasil dan mengakibatkan bahan organik rusak atau membusuk. Setelah 10-15 hari, pupuk telah jadi dan siap digunakan.

Demikian informasi singkat yang kami sajikan mengenai Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. 
 
Blog ini diangkat kembali dari http://www.tanijogonegoro.com/2013/09/membuat-pupuk-organik.html

Sabtu, 19 Juli 2014

Cara Sederhana Membuat Pupuk

Pupuk merupakan suatu hal yang paling penting bagi tanaman, khususnya tanaman palawija yang membutuhkan secara memadai. Namun demikian untuk memenuhi kebutuhan pupuk bagi tanamannya, maka diperlukan keahlian untuk mengolah pupuk sederhana agar kebutuhan pupuk dapat tercukupi. Salah satu mengolah pupuk sederhana dapat dilakukan dengan mencampur kotoran lembu dengan kotoran ayam potong dengan campuran masing-masing jenis kotoran sebanyak 50%. Kemudian hasil campuran kedua kotoran hewan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan pres secara rapat-rapat dan dibiarkan selama lebih kurang 30 hari. Setelah waktu 30 hari, maka pupuk telah jadi dan siap untuk digunakan dengan ketentuan 3 ton pupuk untuk 1 hektar lahan. Dan pupuk yang dibuat dari hasil campuran kedua jenis kotoran hewan tersebut sangat bagi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman termasuk juga untuk masa pembuahan, karena pembuatan pupuk jenis ini telah saya praktikkan sendiri, dan tanaman membuahkan hasil yang lumayan banyak.